Poster The Batman 2022

Review The Batman (2022) – Detektif terhebat

Sinopsis

Film ini mengambil masa ketika Bruce Wayne diperankan Robert Pattinson, di dua tahun pertama dirinya menjadi batman. Bekerjasama dengan seorang detektif polisi bernama Jim Gordon (Jeffrey Wright), hari-harinya disibukan sebagai vigilante yang membasmi kejahatan di kota gotham yang muram. Film dibuka dengan aksi Riddler yang dengan kejam membunuh walikota Gotham. Ia meninggalkan teka teki di kartu ucapan yang ditujukan kepada Batman. Teka teki ini sebagai petunjuk tentang motif dan korban berikutnya.

Batman bersama Jim Gordon bekerjasama dalam upaya mengungkap dan menangkap – The Riddler. Namun usaha mereka ditentang oleh polisi lainnya. Saat sedang melacak kasus ini, tanpa sengaja Batman bertemu vigilante bertopeng lain, Catwoman – alias Selina Kyle (Zoë Kravitz). Selina bekerja di klub malam yang dijalankan oleh gangster bernama Oz, yang dijuluki Penguin (Colin Farrell ), dan sering dikunjungi oleh penjahat lain, seperti mafia bernama Carmine Falcone (John Turturro), dan pejabat-pejabat korup.

Satu per satu motif Riddler semakin terungkap, seiring dengan terbukanya rahasia-rahasia yang lebih besar yang melibatkan pejabat, mafia dan orang-orang penting kota Gotham termasuk rahasia masa lalu keluarga Wayne yang tidak diketahui Brcuce.

Review The Batman 2022

Film The Batman, yang berdurasi 3 jam berhasil menyajikan film yang apik mampu memenuhi ekspektasi penggemarnya.

Setia mengusung kesuraman ala film Burton, Nolan, dan Snyder, Reeves mampu membuat kesuraman versi sendiri. Berjalan cukup lamban (tidak terburu-buru) tapi bisa dinikmati, karena selama 3 jam disajikan plot, dialog, gambar dan skoring yang solid.

Matt Reeves memfokuskan karakter Bruce Wayne yang lebih manusiawi, sebagai anak muda yang penyendiri, mencari jati diri dan dibayangi trauma masa lalu. Dan peran Batman lebih sebagai detektif ketimbang tokoh superhero fantasi yang biasanya beraksi dengan alat-alat mahal dan canggihnya. Meski begitu, peralatan canggih tetap ada sebagai alat bantu, yang paling berkesan adalah batmobile yang terasa lebih menakutkan saat bersiap mengejar Pinguin.

Matt Reeves cukup berani dan untungnya berhasil mengembalikan karakter Batman di DC (Detective Comic) sebagai detektif seperti di komiknya. Selama ini film-film Batman terbawa arus pakem superhero bertopeng yang melupakan akar aslinya Batman sebagai ‘The World’s Greatest Detective’.

Robert Pattinson tak disangka bermain cukup baik sebagai Bruce, walau agak sedikit emo, sedangkan sebagai Batman, aksinya sudah mantap dalam scene perkelahian tampak meyakinkan. Sedang Zoë Kravitz berhasil memerankan Cat Woman yang di film ini digambarkan lebih bayak layer, tidak hanya seksi dan menggoda tapi ada sisi rapuh, dan tekad melawan masa lalunya. Sedangkan The Riddler mampu mencuri perhatian sebagai pembunuh berantai dengan karakternya walau agak klise ala ala karakter penjahat di film-film psikopat yang culun tapi sadis, walau masih belum bisa menyaingi karakter Joker-nya Heath Ledger yang penomenal di filmnya Nolan, The Dark Knight.

Ada beberapa segi di film The Batman yang sedikit lebih unggul dibanding The Dark Knight, antaranya dari divisi scoring yang digarap Michael Giacchino menghadirkan scoring yang dasyat. Juga visual menurutku lebih bagus dalam menampilkan Gotham city yang suram dan kumuh. Juga visual saat adegan pertarungan saat gelap bagaimana menampilkan nyala dari senjata sangat asik dilihat. Cara Revees mengambil sudut pandang lawan dan batman dibeberapa scene mengajak kita merasakan tensi film dari sudut pandang karakter-karakternya.