review film death on the nile 2022

Review Film Death On The Nile (2022)

Penggemar Novel misteri pasti gak asing lagi dong dengan karya penulis kriminal legendaris Agatha Christie ini. Mungkin pernah nonton versi filmnya terdahulu juga (Death On The Nile – 1978)

The Death On The Nile (2022) ini disutradarai oleh Kenneth Branagh. Dia tidak hanya menyutradarai tetapi juga memerankan tokoh utama detektif Hercule Poirot.

Film ini dipenuhi bintang, sebut saja Gal gadot yang memerankan Linnet Ridgeway-Doyle. Suaminya Simon Doyle diperankan oleh aktor kontroversial Armie Hammer. Kekasih Simon dan mantan teman Linnet, Jacqueline De Bellefort atau Jackie, diperankan oleh Emma Mackey. Lalu ada Tom Bateman sebagai Bouc, yang main di film Poirot karya Kenneth Branagh sebelumnya, Murder on the Orient Express. Annette Bening sebagai Euphemia nyokap-nya bouc. Sementara itu, Sophie Okonedo (Hotel Rwanda) berperan sebagai penyanyi blues Salome Otterbourne. Anaknya, Rosalie Otterbourne diperankan oleh Letitia Wright (Black Panther). Lainnya ada Russell Brand (Linus Windlesham) seorang Dokter mantan tunangan Linnet.

Poster Death On The Nile
Poster Death On The Nile

 

Ceritanya

Ber-set tahun 30an, Poirot sedang berkunjung ke Mesir, tak sengaja dia menyaksikan Simon, Jackie dan Linnet berdansa penuh gairah. Jackie malam itu mengenalkan tunangannya, Simon kepada temannya, Linnet seorang perempuan muda cantik, pewaris tunggal keluarga tajir melintir, berharap Linnet memperkejakan Simon di bisnis real estatenya.

Enam bulan berlalu, secara mengezutkan ternyata Simon malah menikahi Linnet. Linnet yang merasa terancam dengan kehadiran Jackie yang selalu muncul meminta bantuan Poirot yang secara ga sengaja bertemu waktu itu. Linnet minta Poirot mengawasi Jackie. Kemudian diam diam, untuk menghindar dari gangguan Jackie,  Linnet merencanakan perjalanan bulan madunya menggunakan kapal menyusuri sungai Nil dengan sejumlah tamu undangannya. Namun di tengah perjalanan Jackie berhasil masuk ke Kapal tersebut dan membuat keributan. Setelah terjadi keributan yang singkat namun fatal, dimana Simon, tertembak di kaki oleh Jackie yang histeris, Linnet ditemukan sudah tak bernyawa dengan lubang bekas tembak pada kepala di tempat tidur di kabinnya. 

Poirot pun beraksi untuk memecahkan misteri ini, namun dalam upayanya mengungkap siapa pembunuhnya, Poirot mendapatkan kesulitan, mulai saat kejadian berlangsung, Poirot sedang terlelap karena mabuk (di bikin mabuk). Lalu tersangka, petunjuk, dan kesaksian yang tumpang tindih. Poirot yang mumpunyai ciri khas mengungkap teka teki dengan melalui motif dipusingkan dengan banyaknya orang orang yang terkait erat dengan Linnet. Musuh bisnis, keluarga, mantan kekasih, semua ngumpul dalam satu kapal. Belum lagi kebohongan kebohongan karena alasan alasan pribadi, menyebabkan pengungkapan kasus ini jadi makin rumit dan memakan waktu hingga korban korban lain berjatuhan. Udah gitu diburu waktu pula, karena kapal akan segera sampai ke daratan. Hercule Poirot benar-benar di uji kali ini.

Beda dengan Novel dan film sebelumnya

Banyak perbedaan dihadirkan di film satu ini, namanya juga adaptasi. Misal film dibuka dengan set peperangan dan sedikit kisah masalalu Poirot sebagai tentara di perang dunia I. . Tentang mengapa ia memanjangkan kumis segede gabannya. Padahal Poirot adalah mantan polisi brussel yang mengungsi ke London saat PD I. Lalu di film ini Salome Otterbourne jadi ibu ibu berkulit hitam penyanyi blues, di cerita asli ia seorang Novelis. Lalu Bouc yang dihadirkan kembali menemani Poirot. Itu cukup menarik karena bisa menjadi variasi baru tanpa mengubah keseruan cerita detektifnya. Jumlah tersangka juga dikurangi atau dibuat rangkap, mungkin demu durasi. Namun yang cukup mencolok adalah keberanian Michael Green sebagai penulis naskah adalah usahanya menampilkan sisi lain seorang Poirot yang lebih manusiawi, kesepian dan punya sisi romantis. Kita tahu, Poirot sudah trade marknya adalah orang yang egois, aneh (unik) dan suka menyombongkan kehebatannya. Disini saya kira cukup berhasil. Mungkin banyak yang ga siap mendapatkan (perubahan?) karakter (baru?) dari seorang Hercule Poirot ini. Tapi buat saya setidaknya untuk film ini, hal itu diperlukan untuk mengimbangi film yang bertema utama pembunuhan atas dasar romansa dan cinta. 

Dan puncak kenekatan film ini saat di ending film dimana Poirot mencukur kumis khasnya. Wah wah… bisa ngamuk ga yah fans beratnya wkk

Gambarnya

Untuk gambar memang indah, kostum dan makeup sangat bagus. namun untuk kota-kota dan set lokasi mesirnya, saya kira banyak bantuan CGI, sangat bersih dan megah tapi malah ngilangin kesan ke Mesir-an-nya di tahun 30an. Kalo liat film sebelumnya, dimana hiruk pikuk pasar dan kota mesir real tergambar, disini terlalu rapi.

Tapi secara keselurahan film Death On The Nile (2022) ini sayang dilewatkan. Branagh berhasil menghadirkan kemegahan suasana kalangan jetset era itu, dihiasi musik jazzy blues dan scoring yang pas menghidupkan ketegangan yang intens di pertengahan film hingga akhir.