twenty five twenty one

Review Drakor: Twenty Five Twenty One

Drama penuh inpirasi berlatar 90-an, kisah cinta atlit anggar & reporter TV

Berseting tahun 1998 dan masa kini, mengikuti kisah Na Hee Do, seorang atlit anggar yang masih duduk di bangkku SMA dan Baek Yi Jin serta sahabat-sahabatnya

Sinopsis Drama Twenty Five Twenty One

Cerita bermula saat anak dari Na Hee Do yang berusia 15 tahun membaca buku harian mamanya. Digambarkan Na Hee Do adalah gadis periang, menggilai permainan anggar sejak kecil, permainan yang dikenalkan mediang ayahnya. Ia mengagumi Ko Yu Rim (Bona), seorang gadis SMA sebayanya yang sudah menjadi peraih medali emas cabang anggar di Olimpiade saat usianya baru 17. Tiap sabtu Hee Do rutin mengintip Ko Yu rim latihan di Sekolahnya di SMA Tae-Yang.

Korea Selatan bergulat dengan dampak krisis keuangan IMF. Na Hee-do harus menerima kenyataan bahwa sekolahnya akan secara  membubarkan klub anggar karena kesulitan keuangan yang disebabkan oleh insiden IMF.  Na Hee do yang punya impian dan kecintaan akan anggar itu harus menerima kenyataan. Sampai akhirnya dia mengetahui jika di SMA Tae-yang, klub Anggar tidak dibubarkan, karena ada Ko Yu Rim si peraih emas oimpiade. Ia pun curhat kepada teman chatnya. Teman dumaynya itu menjadi sarana curhatnya selama ini karena ibunya yang sibuk dan tidak akur tidak memungkinkan untuk jadi tempat mengadu. Teman chatnya itu memberi saran dan membuat semangatnya kembali. Kata-kata ““If your world is gone, go to her world.” terngiang dan membuatnya bertekad untuk mencapainya.

Jalan pertama untuk itu, ia merengek kepada ibunya Shin Jae-kyung, seorang reporter TV terkenal. Ibunya yang keras malah menyuruhnya berhenti bermain anggar karena menganggap Na Hee do ga serius dengan itu, dan menyinggung soal prestasi Na Hee Do yang tidak mengalami kemajuan dan menyuruhnya untuk serius ke pelajaran sokelah. Gagal dapat dukungan ibunya ia pun merencanakan hal hal konyol untuk bisa dikeluarkan dari sekolahnya sehingga bisa menjadi alasan untuk dipindahkan ke SMA TaeYang. Kelakuan Na Hee do di episode ini sungguh lucu. Kalian pasti akan tertawa dengan kelakuan-kelakuan polosnya saat coba menjadi anak nakal tapi selalu gagal.

Pada masa masa ini ia juga berkenalan dengan seorang pemuda 22 tahun pengantar koran bernama Baek Yi-jin (Nam Joo-hyuk) yang tak sengaja memecahkan titit patung air mancur saat melempar koran di rumah Hee Do. Baek lulusan SMA yang berhenti kuliah karena bapaknya yang kaya raya bangkrut meninggalkan hutang disana sini sehingga keluarganya harus terpisah pisah dan sebagai sulung diapun harus menjadi dewasa dan mandiri dengan kerja serabutan sebagai pengantar koran dan sebagai penjaga penyewaan komik dan dvd tempat Na Hee do berlangganan.

Singkat cerita dengan usaha dan bantuan ibunya yang ternyata kenal dengan pelatih anggar di sekolah Tae-Yang tempat ko Yu Rin, idolanya bersekolah. Na Hee Do akhirnya bisa pindah dan mimpinya berlatih dengan idolanya tercapai. Namun ternyata Ko Yu Rim tidak sebaik yang dibayangkan. Ko Yu Rim ternyata seorang gadis yang jutek dan membenci Na Hee Do.

Sementara itu Yi Jin kini telah bekerja sebagai Reporter magang disebuah stasiun TV. Sebagai batu loncatan Yi Jin mengambil kesempatan sebagai Reporter olahraga khususnya Anggar.

Di Kejuaran Asian Games itu Na Hee-do berhasil mengalahkan Go Yu-rim dan memenangkan medali emas. Namun, bukannya mendapatkan ucapan selamat, publik justru menyerangnya dan mengatakan bahwa dirinya mencuri medali emas milik Ko Yu-rim. Kemenangan Hee Do malah membawa beban untuk seorang gadis SMA. Disinilah Yi Jin mengatasi masalah ini dengan caranya sebagai reporter.

Di Sekolah barunya Na Hee do berteman dengan Ji Seung-wan, Anak ibu kos tempat Baek Yi Jin tinggal, Ia Ketua kelas dan teman masa kecil Moon Ji-woong, seorang cowok terpopuler di SMA yang naksir Ko Yu Rim. Ko Yu Rim juga berteman dengan Baek Yi Jin sejak kecil. Ko Yu Rim pernah disponsori oleh perusahaan Ayahnya Yi Jin dan hubungan mereka masih akrab bak keluarga. Mereka berlima sering ngumpul dan cerita mereka masing-masing dikisahkan di drama.

Realistis

Dengan 16 episode, 25-21 Menawarkan cerita tentang perjuangan meraih impian, persahabatan, keluarga dan romansa cinta pertama. Drama besutan sutradara Jung Ji-hyun dan penulis Kwon Do-eun ini terasa sangat realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dialog-dialognya tanpa cela. Apalagi saat Hee Do dan Ibunya berantem, Hee Do yang remaja selalu punya counter yang bikin Ibunya terdiam. Juga hubungan Hee Do dan Baek yang merenggang dapat disampaikan alasannya lewat dealog dengan jelas lewat alasan-alasan yang bisa diterima.

Angkat topi dengan akting para pemainnya, terutama Kim Tae-ri, artis yang berusia 30an ini bisa memerankan Na Hee-do remaja 18 tahun dengan gayanya yang menggemaskan di episode-episode awal dan karakternya berkembang menjadi Na Hee Do mulai menjadi dewasa dengan smooth. Tak heran perannya ini mendapat pengharggaan

Serial ini berkesan karena menggambarkan masa remaja, terutama Na Hee Do yang gigih mencapai mimpinya, yang membuat Baek yang usianya lebih tua terinspirasi dan menemukan semangatnya kembali. Juga Na Hee Do yang ceria, optimis, dan penuh semangat serta kepolosannya mampu menjadi penghibur saat Yi Jin yang masih sering dilanda kesedihan karena ketidakberuntungan dalam hidupnya yang baru.

Dari segi senimatografi, serial ini memanjakan penontonnya dengan gambar-gambar indah nan romantis dengan menampilkan gambaran suasana masa akhir 90-an. Dari gaya dandanan, busana, dan gadget seperti telepon umum, pager, mini compo, tv tabung dan sebagainya.

Tema olah raga membuat drama ini juga menarik karena menampilkan semangat dan sportifitas dalam persaingan menjadi yang terbaik. Olah raga anggar yang menjadi tema utama film ini ditampilkan dengan meyakinkan.

Juga ditampilkan peristia peristiwa besar masa itu seperti krismon, 11 septemer dan lain-lain. Sangat relate temanya dengan masa masa sekarang yang karena pandemi covid 19 kurang lebih mirip dimana peristiwa peristiwa besar bisa membuat hidup seseorang terkena dampaknya. Seperti Baek Yi Jin dari anak konglomerat yang bangkrut harus mengalami nasip yang buruk oleh jaman. Sedangkan Na Hee Do malah diuntungkan oleh jaman saat beberapa orang kandidat diatasnya mengundurkan diri karena ekonomi, membuatnya bisa berpartisipasi dalam turnamen pemilihan tim nasional yang akan membuatnya jadi atlet anggar ternama.

Sayang untuk dilewatkan

Kesuksesan drama ini tak lepas dari nuansa “retro-sentimental” yang dihadirkan melalui penggunaan properti, mode, dan lokasi yang mampu membangkitkan nostalgia generasi yang mengalami tahun 1990- an. Drama ini berhasil meraih empati dan simpati penonton karena menggambarkan perjuangan masa IMF di Korea, yang sangat relate dengan pandemi COVID-19 masa ini.

Review Drakor: Twenty Five Twenty One
Cerita
Sinematografi
Akting
Reader Rating0 Votes
4